Jalan Tak Terduga Pasutri Sukabumi Geluti Bisnis Fashion Batik
Sukabumi – Sepasang suami istri muda ini tak menyangka hobi mereka menggambar dan memakai batik akan berujung jadi jalan hidup. Fitri Apiyanti dan Moch Faissal Nasrulah, pemilik brand Batik Kakak, kini menikmati manisnya keputusan besar yang mereka ambil empat tahun lalu resign dari pekerjaan tetap dan fokus menekuni batik.
Baca Juga: Dukung Ekosistem Kecantikan dan Fashion, BRI Hadirkan BFF Festival 2025
Dulu mereka berkarier di sektor perbankan dan pemerintahan non-PNS. Tapi sejak 2021, mereka bulat meninggalkan zona nyaman. Batik yang awalnya hanya usaha sampingan, kini jadi sandaran hidup. Tak tanggung-tanggung, omzetnya bisa tembus Rp70 juta perbulan.
Proses kreatif batik yang mereka hasilkan tak sembarangan. Semuanya dimulai dari sketsa di kertas biasa. lalu difinalisasi lewat aplikasi Batik sebuah platfrom digital hasil pembinaan dari LPS dan Batik Fractal.
Setelah desain jadi, sketsa dikirim ke pengrajin khusus pembuat slot gacor canting tembaga. Proses produksi dilakukan secara berulang, dengan ukuran pola 20×20 atau 15x15cm. Hasil akhirnya dikirim kembali ke tangan Fitri dan Faisal untuk dibuat menjadi beragam prosuk kekinian.
Yang membuat batik kakak berbeda dari produk batik lainnya adalah desain dan warnanya. Pasangan ini sengaja menyasar pasar anak muda dan ibu muda. Sehingga mereka meracil pola yang simpel dan warna-warna pastel yang sedang digandungi.
“Selain baju, kita juga kembangkan produk turunan batik sepertiĀ big bass crash hampers dan gift set. Kemasannya juga kita bikin lebih kekinian supaya cocok buat anak-anak muda,” kata faisal
Bahkan kain yang digunakan pun disesuaikan dengan kebutuhan pasar, yakni katun dan primis, yang nyaman dipakai sehari-hari.
Pernah Jadi Cendramata KBRI Mesir
Meski berbasis di Sukabumi, produk Batik Kakak sudah menembus pasar luar negeri. Fitri dan Faisal pernah menerima pesanan khusus dari KBRI di Mesir untuk Hampers Batik nerupa sejadah dan dompet, sebanyak 20 paket. Produk mereka juga pernah dikirim ke Jepang, Malaysia, dan Inggris, meski mayoritas pasar ekspor masih berupa souvenir dan home decor.
Dengan modal awal hanya Rp20 jutaan, kini usaha Wild Bounty mereka berkembang pesat. Dalam seharian, mereka bisa memproduksi hingga 700 lembar kain batik, ditambah prosuk seperti outer, blus, mukena, hingga hampers. Produknya dijual dengan harga mulai dari Rp130 ribu hingga Rp300 ribuan.
“Yang paling happening sekarang outter. Kita desain sendiri, buat sampelnjya, baru produksi besar, “jelas Faisal.
Kini tim mereka sudah berisi 10 orang, terdiri dari staff mega wheel pragmatic toko dan tim produksi yang sebagian besar adalah warga sekitar. Sistemnnya pun terorganisir dan desain, produk, Jakarta, hingga pengemasan. Mereka juga aktif pameran ke Bandung, Jakarta, bahkan hingga Medan dan Balikpapan, Bebarapa pelanggan bahkan sudah jadi reseller tetap.
“Alhamdulillah, dari yang awalnya usaha sambilan, sekarang jadi psangan hidup. Keuntungan bersihnya bisa sampai 40 persen dari omzet,” kata Fitri.